Pages

Monday, June 5, 2017

Tuesday, June 21, 2016

Menjaga Kebersihan dan Kecantikan Kulit Wajah

Banyak yang bilang, jadi perempuan itu repot. Apalagi jadi perempuan Jakarta dan bekerja, tuntutan harus lincah, harus rapi, harus bersih, harus wangi, pokoknya harus good looking apalagi kalau harus meeting dengan client.  Dan saya ini termasuk golongan perempuan yang mau nggak mau harus menerima tuntutan-tuntutan yang sudah disebutkan diatas tadi.  

Sementara kita tau dong cuaca dan udara Jakarta itu sangat nggak bersahabat buat kulit, apalagi bagi kulit perempuan. Berlama –lama beraktivitas di luar ruangan tentunya bikin kulit kusam karena kulit kita terpapar sinar matahari dan polusi, Jakarta gitu, coba bagian mana Jakarta yang nggak kena polusi haha.

Nah untuk tetap bisa tampil good looking, salah satu sayaratnya adalah saya wajib menjaga kesehatan kulit, biar jauh-jauh dari kesan kusam. Tapi membuat kulit terlihat sehat juga ternyata bukan hal yang mudah ya, mulailah saya mencari sabun pembersih muka, mencoba merk A,B,C dari yang harga terjangkau sampai yang harganya mahal. Tapi efek mencoba ini itu alhasil malah kulit muka jadi kering tapi di daerah T tetap berminyak,  aduh rasanya kiamat banget pas kulit wajah kering kombinasi berminyak, karena make up jadi nggak menempel ke kulit dengan baik :( tapi kalau tanpa make up, kulit yang mengelupas karena kering makin terlihat. 

Sungguh mencari sabun muka yang tepat ini kurang lebih sama dengan mencari pasangan yang pas haha. Sampai akhirnya saya kenal dengan produk Cetaphil Gentle Skin Cleanser, yang ternyata formula PH Balance nya bebas sabun, non comedogenic  dan cocok untuk semua jenis kulit.
Pertama kali coba rasanya agak aneh, karena saya sudah sangat terbiasa dengan sabun yang bisa menghasilkan busa dan Cetaphil ini sama sekali nggak berbusa, karena memang formulanya bebas sabun. Setelah 3 kali pemakain mulai berasa nih kalau kulit nggak kering, lebih lembut dan lebih kenyal. Oh ya kelebihan lain dari Cetaphil Gentle Skin Cleanser ini adalah bisa digunakan baik menggunakan air maupun tanpa air, jadi praktis kan dibawa kemanapun, sekalipun nggak menemukan air untuk cuci muka, kita bisa bersihkan muka dengan mengoles rata Cetaphil Gentle Skin Cleanser kemudian dibersihkan dengan tissue kering. Pastiya cara ini efektif banget buat perempuan-perempuan macam saya, yang kepengen wajah tetap fresh tapi nggak punya banyak waktu untuk cuci muka dan make up ulang, haha dengan cara ini kan kita nggak perlu 'ngalis' lagi kan :')) #cetaphilexperience.

setelah bersihin wajah pakai Cetaphil tanpa air, nggak perlu ngalis lagi kan :'))



Suka banget deh sama Cetaphil Gentle Skin Cleanser, rasanya pas banget buat saya yang punya banyak aktivitas dan sering bepergian. Kulit wajah jadi lebih segar, nggak perlu banyak make up diwajah tapi wajah tetap enak dipandang.

Pengen juga nyobain Cetaphil Gentle Skin Cleanser? Nggak perlu jauh-jauh ke Singapore kok, karena sekarang produk #Cetaphil ini bisa didapatkan dengan mudah di beberapa kota besar di Indonesia yaitu di Century, Watson atau Guardian terdekat, atau kalau mau produk lain #Cethapil dan mau tau soal #Cetaphilid dan #Cetaphilindonesia, bisa cari tau disini.
Kalau nggak mau ketinggalan update tentang #Cetaphilindonesia, sila follow saja twitter @cetaphil_id
Cetaphil Every Age, Every Stage, Every day.

#Cetaphil #Cetaphilindonesia #Cetaphilid #Cetaphilexperience

Thursday, May 12, 2016

Monumen Tanpa Bangunan untuk Ibu

Hari ini tepat 7 tahun lalu saya kehilangan pahlawan dalam hidup saya, Ibu. Saya menuliskan ini sebagai monumen tanpa bangunan untuk Ibu, untuk mengenang sang Pahlawan.

Ibu saya bukan seorang perempuan yang berpendidikan tinggi, SD saja beliau tidak lulus karena ekonomi keluarganya yang memaksa beliau tidak sekolah, sebagai anak pertama dan memiliki banyak adik, Ibu saya dipaksa keadaan untuk diasuh orang lain, Ibu saya dan 2 adiknya akhirnya ikut oleh priyayi Solo.
Tentu saja bukan sekedar diasuh dan kemudian naik derajat menjadi priyayi, tetapi Ibu saya membantu keluarga tersebut untuk bersih-bersih rumah dsb. Beruntung keluarga yang mengambilnya adalah keluarga baik, Ibu saya banyak belajar dari keluarga itu. Saya lupa berapa lama Ibu ikut dengan keluarga itu, yang pasti Ibu saya menimba banyak ilmu dari keluarga itu, yang kalau tidak salah namanya Bu Bardi. Terima kasih keluarga Bu Bardi atas kebaikannya terhadap Ibu.

Dari cerita Ibu, saya tahu bahwa perjalanan hidupnya tidak mudah. Sampai akhirnya Ibu menikah dengan Bapak, waktu itu usia Ibu saya 21 tahun. Ketika Ibu saya mengira bahwa menikah membuat hidupnya lebih
mudah, karena bapak saya dari golongan yang strata sosialnya lebih tinggi dari ibu, nyatanya hidup tak seindah apa yang kita bayangkan.
Entah di usia pernikahan mereka yang ke berapa, bapak saya berhenti bekerja, dan mulai bergonta -ganti
pekerjaan. Ibu saya kemudian memutar otak, bagaimana untuk bisa menghasilkan uang untuk menyekolahkan anak-anaknya, dan membiayai hidup keluarganya. 
Bekerja kantoran jelas tidak mungkin, SD saja tidak lulus kok, akhirnya waktu itu dengan beberapa ribu yang dia punya (kalau tidak salah sekitar tahun 1978) Ibu saya memulai berjualan nasi rames, dengan meja kayu ala kadarnya.

Dimulai dari jualan nasi rames dengan meja kayu, kemudia setelah bertahun-tahun Ibu saya mampu membeli
lincak (bangku panjang dari Bambu) seperti yang digunakan pedagang-pedagang di pasar tradisional.
Setelah lincak, kemudia ibu mampu membeli lemari etalase bekas, yang setiap pagi kami harus mengangkat dari rumah ke ujung jalan tempat ibu berjualan. 
Dan ketika saya masuk SMP, ibu saya bias membeli gerobak, ini juga gerobak bekas yang kita bersihkan dan sedikit dipoles supaya terlihat sedikit cantik.

Nah, saat SMP ini, ketika saya sudah mulai kenal banyak orang, dan banyak teman-teman saya ini berasal dari keluarga mampu. 
Pernah suatu ketika saya merasa malu, malu punya Ibu yang cuma jualan rames, malu punya bapak yang nggak bekerja, apa yang bisa saya banggakan ?
Saya harus umpet-umpetan ketika pagi membantu mendorong gerobak Ibu, ketika sudah memakai seragam
sekolah masih harus membantu berjualan, waktu itu saya sunggu malu kalau teman-teman saya
mengetahu saya cuma anak tukang jualan rames. Pun kadang merasa sebal ketika sedang membantu jualan lalu ada ibu-ibu yang beli dan tidak mengantri,lalu dengan alasan cepetan dong anak saya mau sekolah,
dalam hati saya menjawab, saya juga mau sekolah tante, saya mau berangkat sekolah saja harus dorong
gerobak dulu, anak tante mah enak makan aja diladenin!
Pernah pada suatu ketika saya mengutarakan rasa malu saya ini ke Ibu, dengan tanpa perasaan saya bertanya ke Ibu 'Ibu, kenapa sih ibu harus jualan rames di pinggir jalan gini, dek Irin kan  malu kalau ketauan temen' Lalu Ibu saya sambil tersenyum menjawab 'kalau ada temen kamu yang nanya gitu, ya jawab aja, kalau Ibu saya jualan di tengah jalan nanti ditabrak dong' saya pun tertawa.
Setelah itu, Ibu saya bilang 'Rin, kalau Ibu nggak begini kamu nggak bisa sekolah, Ibu mau anak-anak Ibu sekolah yang tinggi biar kalian nggak perlu hidup susah kayak Ibu, nggak perlu merasakan apa yang Ibu rasakan, biar hidup kalian jauh lebih baik dari Ibu'
Apalah saya waktu itu, masih belum paham dengan hidup, remaja yang cuma tau gengsi.

Maafkan saya ya bu :(

Waktu berlalu, saya beranjak dewasa. Saya mulai paham apa yang Ibu lakukan demi anak-anaknya, saya
tidak lagi malu mendorong gerobak Nasinya sebelum berangkat sekolah, ikut membungkus nasi sebelum
berangkat sekolah atau ketika libur sekolah.
Saat saya SMA, ibu nekat meminjam uang untuk menyewa toko di ujung gang untuk berjualan. Karena memang masakan Ibu saya itu enaknya kebangetan, tidak heran kalau setiap hari warung Ibu selalu ramai, dari pagi jam 6 orang sudah antri untuk membeli lontong opor atau nasi gudeg atau ayam bakar, kemudian di siang hari sayur lodeh selalu jadi rebutan pelanggannya.
Hasil kerja kerasnya berbuah manis, Ibu saya bisa membeli rumah, rumah kosong di seberang rumah Eyang,
yes kami tinggal numpang di rumah Eyang selama berpuluh tahun. Ibu saya selalu berbisik ke saya 'nanti rumah ini pasti kebeli sama Ibu' setiap kali kami melewati rumah itu.
Dan benar saja, keinginannya yang kuat itu akhirnya terwujud. Ibu semakin menuai hasil kerja nya.

Ibu saya ini wanita yang tangguh, wanita yang keras terhadp dirinya sendiri namun lembut terhadap orang lain. Ibu saya terkenal baik ke semua orang, tanpa kecuali, baik ke pagawai-pegawainya, baik ke teman-teman saya, baik ke setiap pedagang di pasar, bahkan dia pun selalu baik ke setiap pengemis dan orang gila yang setiap hari meminta jatah nasi.
Pesan Ibu 'berbuat baik sebanyak-banyaknya, kapan saja dan dimana saja' bahkan saya tidak pernah diajarkan berbuat baik untuk mendapatkan pahala, memikirkan pahala saja artinya kita sudah pamrih, berbuat baik ya berbuat baik saja, begitu pesan Ibu.

Kebaikan Ibu ini menyisakan kenangan yang baik untuk orang-orang yang ditinggalkan, bahkan sampai sekarang kalau saya pulang kampung dan ke pasar traditional dan ketika belanja sesuatu tetapi uang saya kurang, pedagang di pasar tidak segan bilang 'putrine Bu Dibyo nggih? sampun mba di bekto mawon
riyin (sudah mba di bawa saja dulu)'. Sebegitu kuatnya ya kebaikan itu, bahkan masih bersisa setelah bertahun-tahun orang nya meninggalkan dunia.

Ah Ibu kenapa pergi secepat itu? Belum puas rasanya saya berterima kasih atas apa yang telah Ibu lakukan, yang telah Ibu perjuangkan untuk kami anak-anaknya. Kalau Ibu tidak keras terhadap diri Ibu sendiri, Kalau waktu itu Ibu terlalu cengeng mungkin saya tidak tau rasanya kuliah, tidak pernah tau bagaimana rasanya di wisuda, tidak bisa seperti saat ini.
Terima kasih atas perjuanganmu Bu, terima kasih telah melahirkan kami, terima kasih telah mengajarkan
kami nilai-nilai kehidupan. 
Semoga kami juga menjadi pribadi yang baik seperti Ibu, yang tetap dikenang kebaikannya hingga saat ini.

Beristirahatlah dengan tenang Bu, kami mengasihi Ibu, kami rindu Ibu :*
Dan beginilah cara saya mengungkapkan kerinduan saya, dengan menulis kebaikan-kebaikanmu Bu.




Monday, December 21, 2015

Selamat Hari Ibu!

Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya.
Di Indonesia hari ini dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional.
Sementara di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, Hari Ibu atau Mother's Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women's Day diperingati setiap tanggal 8 Maret (wikipedia). 

Buat saya peran seorang Ibu itu merupakan peran yang sangat penting. Dan saya salut melihat beberapa sosok Ibu disekitar saya, yang saya anggap luar biasa. 
Yang pertama, saya sangat bangga terhadap Ibu saya. Ibu saya adalah seorang wanita, seorang Ibu yang luar biasa hebat. Wanita yang bahkan tidak lulus Sekolah Dasar kaena kesulitan biaya, tapi Ibu tak ingin anak-anaknya punya nasib yang sama seperti dia, dengan modal seadanya, dia mulai berdagang kecil-kecilan, untuk apalagi kalau bukan untuk membiayai sekolah anak-anaknya.

Ah rasanya tak akan habis kalau saya bercerita tentang sosok Ibu yang melahirkan saya, terima kasih atas banyak pelajaran hidup yang telah diberikan kepada kami, anak-anaknya. 

Masih banyak lagi sosok Ibu yang luar biasa dan menginspirasi, tak perlu jauh-jauh, sahabat saya Valencia Mieke Randa, Ibu dari 3 orang anak yang hebat, Ibu yang ditengah kesibukannya mengurus ketiga anaknya masih mempunyai  banyak energi positif untuk dibagikan kepada banyak orang. Valencia atau yang lebih dikenal dengan nama Silly, adalah sosok Ibu yang sangat inspiratif. Silly telah membangun 5 organisasi sosial, diantaranya adalah Blood For Life Indonesia, 3 Little Angels dan Rumah Harapan Valencia Care Foundation.  Semua gerakan sosial itu dijalan dengan menggunakan online social media. Saya sangat terinspirasi dengan sosok Silly, dengan apa yang telah dia lakukan untuk banyak orang. 

Satu lagi sosok yang luar biasa di mata saya, yaitu boss saya, Ibu Nunki. Buat saya Ibu Nunki ini adalah sosok Ibu yang tangguh, pantang menyerah dan pekerja keras. Terlahir di tengah keluarga berada tidak lantas membuatnya manja. Kadang saya bingung bagaimana caranya Ibu membagi waktu antara pekerjaan dan waktu untuk keluarganya. Bagaimana Ibu mempunyai tenaga yang rasanya nggak ada habisnya.

Banyak hal lain lagi dari Ibu-Ibu super yang saya ceritakan di atas, semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan kepada Ibu-Ibu Hebat tadi, juga kepada seluruh Ibu di muka bumi ini.

Saya salut pada Ibu yang memilih menjadi wanita karir, membagi waktu untuk keluarga dan pekerjaan sungguh bukan pekerjaan yang mudah, tetapi saya pun salut kepada Ibu yang memutuskan menjadi Ibu Rumah Tangga, yang mendedikasikan waktunya 24/7 untuk keluarganya.

Apapun pilihannya, Kalian tetap Seorang Ibu yang hebat dimata anak-anakmu ...

Selamat Hari Ibu, wahai para Ibu yang Hebat :)

Monday, November 9, 2015

Selamat Jalan Kawan ....

Hari ini saya dikejutkan dengan kepergian salah satu teman, sahabat, keluarga.
Dia seorang seniman, pemusik, pelukis, apa saja yang berkaitan dengan seni nyaris bisa dia kerjakan.
Saya teringat pernah dibutkan tattoo temporer oleh dia.
Dia terlahir dengan nama Ign. Sri Barlianto Danajati namun lebih akrab disapa Blendonk, karena ukuran badannya yang besar dan perutnya yang tambun.
Kami semua kehilangan, kehilangan sosok seniman serba bisa, kehilangan sosok sahabat yang jenaka, sebagian kehilangan seorang guru, guru yang mengajarkan memainkan alat musik bernama jimbe, kami sangat kehilangan seorang Blendonk.

Kabarnya Blendong meninggal karena serangan jantung. Blendonk adalah orang kesekian yang direnggut oleh silent killer bernama heart attack.
saya sedih karena telah kehilangan beberapa teman dengan penyebab kematian yang sama, SERANGAN JANTUNG!
Bahkan saya dua kali menyaksikan Ibu saya mengalami serangan jantung, hebatnya waktu itu ibu berhasil melewati masa-masa kritisnya. Meski akhirnya Ibu pergi 2 tahun setelahnya karena stroke
yang di derita sudah menyerang ke sistem syaraf pusat.
Bagaiamana serangan jantung dan apa penyebabnya? sila baca disini

Kehilangan-kehilangan tersebut membuat saya sedih, saya sedih karena banyak orang sangat tidak peduli kepada kesehatannya, saya sedih mendengar banyak orang berkata "ah hidup mati kan sudah ada yang mengatur" saya sedih!!!
Usia memang sepenuhnya kuasa Tuhan, namun menjaga kesehatan adalah tanggung jawab kita.
Mulai dari mencintai diri kita sendiri, bagaimana caranya? banyak! istirahat cukup, makan makanan bergizi, minum cukup air putih, dan selalu feel happy dan masih banyak hal lainnya.

Sungguh saya tidak ingin menyalahkan mereka yang telah 'pulang' lebih dulu. Kita yang masih disini, masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, mari mulai mencintai diri sendiri, mulai belajar membaca alarm tubuh.

Catatan ini merupakan selfnote untuk saya sendiri, yang kadang gila kerja dan lupa mengistirahatkan organ2 tubuh, memaksa mereka terus bekerja. 
Maafkan saya ya mata, tangan, otot, otak, jantung, ginjal, paru-paru ... maafkan saya jika saya
terkadang memaksa kalian tetap bekerja keras.
Catatan ini juga untuk kalian yang masih sayang sama orang-orang disekitar kalian, sayangilah diri kalian sebagai bukti bahwa kalian menyayangi orang lain.
Blendonk .... Sugeng tindhak nggeh, til we meet again! Salam untuk Ibu saya di Surga ...