Pages

Monday, May 24, 2010

Tentang sebuah Kepastian


membaca postingan mas stein di sini, saya jadi terinspirasi buat nulis. Tentang ketidakpastian. Saya setuju bahwa sebuah kepastian seburuk apapun lebih baik daripada ketidakpastian yang terkadang mengombang-ambingkan kehidupan kita.

saya ingin sedikit meracau tentang (lagi-lagi) ibu saya. Begini, ibu saya itu 4 tahun strooke, gagal jantung dan diabetes sebelum meninggal. Beberapa kali masuk Rumah Sakit sampai yang terakhir kalinya koma. Dalam masa koma sekitar 6 hari itu, buat kami keluarganya merasa keadaan tersebut adalah keadaan yang 'tidak pasti'. Saya sudah tak bisa berkomunikasi 2 arah dengan beliau, namun saya tau ketika saya membacakan beberapa ayat dan menyayikan lagu untuk beliau, serta bercerita tentang segala hal indah yang pernah saya dan beliau lewati bersama, beliau mendengar suara saya. Terkadang beliau meneteskan air mata, dan saya segera menghapusnya sambil berkata 'ibu... saya tau air mata ini bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan' meskipun dada saya terasa sangat sesak ketika membisikkan itu.
Saya hanya berdoa kepada Sang Pencipta agar memberikan yang terbaik untuk ibuku.

Sampai akhirnya memasuki hari ke empat kondisi beliau semakin menurun, dokter yang merawat ibu segera menemui kami keluarganya. Dokter pun mengatakan, 'teruslah berdoa untuk ibu... kami akan terus memeberikan perawatan yang terbaik, namun mohon maaf kemungkinan untuk semubuh sangat kecil, mohon keikhlasan dan kesabaran ya'
Sakit sekali dada saya mendengar kata-kata dari dokter, namun saya mencoba untuk berbesar hati menerima kenyataan itu, bahwasanya sakit yang ibu derita memang berat. Sementara saya hanya bisa pasrah, ayah saya justru tidak terima dengan ucapan dokter.

Hari kelima... kondisi ibu semakin turun, namun tidak lagi ada tremor yang terkadang mengejutkan kami, matanya sudah tak mampu membuka sama sekali.

Dan hari ke enam, hari terakhir beliau di Rumah Sakit sekaligus hari terakhir beliau merasakan segala sakit yang diderita selama ini. Sore itu saya sengaja lebih awal ke rumah sakit, ibu sedang dimandikan oleh suster, setelah diganti pakaiannya saya masuk ke kamar dan seperti biasa saya bacakan doa, saya nyanyikan beberapa lagu rohani.
Tapi sore itu, tangan ibu terasa begitu dingin dan sama sekali tidak merespon saya. Dokter dan suster bolak-balik ke kamar perawatan ibu, menyuntikan insulin dan beberapa obat penurun panas namun suhu tubuh dan gula darahnya tetap tinggi, sementara tangan dan kakinya sudah dingin. Setelah magrib, selang untuk makanan mulai dilepas, dokter berupaya dan kami keluarganya berdoa. Tidak lebih dari lima menit ... monitor yang tersambung pada kabel-kabel yang menembel di tubuh ibu tidak lagi menunjukan angka dan naik turun seperti sebelumnya.
Dan saya tau, saat itu Ibu benar-benar 'pergi' meninggalkan raganya. Sebuah kepastian yang menyesakkan bagi kami yang ditinggalkan, tapi kami meyakini dan mempercayai bahwa itulah kepastian yang terbaik untuk kami semua. Ibu Tak perlu lagi merasakan sakit yang bertahun-tahun menjadi bagian dari hidupnya.

Memang kepastian itu terkadang pahit seperti sambiloto, namun ketidakpastian itu justru mengombang-ambingkan hidup kita dan terkadang membuat kita hanya jalan di tempat.

4 comments:

  1. saya trenyuh membacanya dear.....

    sebuah kenangan yang sangat dalam tentang masa masa akhir hidup dari sang Ibunda tercinta ya

    dan mungkin selama 6 hari dalam ketidakpastian itu sepertinya telah mendewasakan dirimu dengan caranya sendiri, lebih dibandingkan bertahun tahun kehidupan yg kamu jalani selama ini

    semoga saja sang Ibunda saat ini telah berada ditampat yang Tuhan Yesus sediakan bagi mereka yang percaya akan keselamatan

    ReplyDelete
  2. Irene, tulisan kamu punya kualitas dan mampu menyentuh pembaca. i am sorry abt ur mum, be bold ya darl...there is always sun rises after dark nite.xoxo

    ReplyDelete
  3. Om Yo: Thank 4 reading my blog ... Yess i believe in God :) ... Tuhan mempunyai cara yang luar biasa dalam meningkatkan 'kualitas hidup' umatNya.
    Saya percaya Ibu sudah berada di 'tempat yang indah' di sana :)


    Valdemystica
    Thank 4 visiting my blog... and thank atas pujiannya :) *GR sayah*
    btw saya kok gabisa baca blog anda yo jeng....

    ReplyDelete
  4. hiks.. sedih banget bacanya jeung :(. Semoga ibu diterima di sisi Allah SWT ya jeng *peluk*

    ReplyDelete

Monggo kalau mau komentar