Pages

Thursday, September 20, 2012

Benih





Aku tak tahu harus berbicara apa lagi di depanmu. Hanya ketakutan yang sedari tadi terus-menerus menghampiriku. Kekhawatiran yang sejak lama kusimpan akhirnya datang juga. Lalu harus kuapakan detak jantung yang tiba-tiba berdetak kencang ini?

Kubiarkan jantungku tetap berdetak kencang seiring laju darah yang rasanya semakin cepat. Kulangkahkan kakiku mendekatimu, sosok yang kupuja sedari dulu. Namun ketika jarak semakin hilang, tak satupun kata yang keluar dari mulutku. Hanya cairan bening yang mengkristal disudut mataku yang merepresentasikan kata yang tak terucap.

Haruskah kuberitahukan kepadamu mengenai rahasia terdalam di hatiku? Dan akankah kamu bisa tetap memaafkanku ketika semua yang selama ini sudah kusimpan dalam kotak kenanganku kubiarkan kamu ketahui tanpa ada satu pun yang aku tutupi lagi darimu.

Aku masih terdiam, dengan butiran-butiran kristal yang terus menggenang di mataku dan kemudian turun membasahi pipiku. Aku menunggumu bersuara, suara yang selalu menggetarkan hatiku.

“Bersuaralah sayang, suarakan semua rahasia itu. Dan berusahalah untuk jujur kepadaku. Masihkah ada rahasia yang belum sekali pun kamu utarakan kepadaku?”

Kau tak sekali pun melihatku. Suaramu terasa begitu bergetar seakan menahan isak tangis membuncah dari kedua matamu. Salahkah aku menyimpan rahasia ini setelah sekian lama aku menggantungkan kedua tanganku di dalam pelukanmu? Salahkah bila aku menyimpan rahasia ini agar kamu tak tersakiti lagi karena masa lalu yang pernah mengikatku?

Bibirmu mulai terbuka, perlahan kata demi kata terangkai, seperti sebelumnya suaramu tetap indah meski kali ini keindahan suaramu menghujam jantungku, pelan memang namun hujamannya cukup dalam dan menyakitkan.

“Anak yang kini kukandung tidak berasal dari benihmu.” Dalam kegamangan yang tak tertahankan dan dalam kebencian yang tak lagi bisa kutahan lagi. Aku akhirnya berkata jujur kepadamu.

Setelah terucap semua kejujuran itu, aku terdiam masih dengan butiran kristal yang kian bertambah banyak jumlahnya. Dan lelaki yang ada dihadapanku hanya mematung, tanpa kata, namun sorot matanya menyiratkan berjuta makna. Makna yang ah …

Kamu kemudian mendatangiku dan memegang tanganku. Terasa ringkih memang, tapi aku tahu ada ketulusan di dalam genggamanmu.

“Aku tahu. Aku telah mengetahui itu dari lama.”

“Tapi.. bagaimana mungkin?”

“Sudahlah. Aku tidak mau membahasnya lagi. Terima kasih untuk kejujuranmu. Aku menghargai itu.”


Bagaimanapun kejujuran memang lebih baik daripada menyimpan sampah bernama kebohongan. Sakit masih terasa di hati kedua mahkluk dewasa itu, tapi setidaknya makhluk kecil di dalam rahim Maya tidak merasakan sakit yang sama.



Tulisan Kolaborasi: Me & Teguh Puja

1 comment:

  1. bagus tulisan nya, tapi sesaat gw ga tau syapa yg nangis disitu agak gak jelas arah gender nya...coba deh dibaca lagi (the driver)

    ReplyDelete

Monggo kalau mau komentar