Pages

Thursday, May 12, 2016

Monumen Tanpa Bangunan untuk Ibu

Hari ini tepat 7 tahun lalu saya kehilangan pahlawan dalam hidup saya, Ibu. Saya menuliskan ini sebagai monumen tanpa bangunan untuk Ibu, untuk mengenang sang Pahlawan.

Ibu saya bukan seorang perempuan yang berpendidikan tinggi, SD saja beliau tidak lulus karena ekonomi keluarganya yang memaksa beliau tidak sekolah, sebagai anak pertama dan memiliki banyak adik, Ibu saya dipaksa keadaan untuk diasuh orang lain, Ibu saya dan 2 adiknya akhirnya ikut oleh priyayi Solo.
Tentu saja bukan sekedar diasuh dan kemudian naik derajat menjadi priyayi, tetapi Ibu saya membantu keluarga tersebut untuk bersih-bersih rumah dsb. Beruntung keluarga yang mengambilnya adalah keluarga baik, Ibu saya banyak belajar dari keluarga itu. Saya lupa berapa lama Ibu ikut dengan keluarga itu, yang pasti Ibu saya menimba banyak ilmu dari keluarga itu, yang kalau tidak salah namanya Bu Bardi. Terima kasih keluarga Bu Bardi atas kebaikannya terhadap Ibu.

Dari cerita Ibu, saya tahu bahwa perjalanan hidupnya tidak mudah. Sampai akhirnya Ibu menikah dengan Bapak, waktu itu usia Ibu saya 21 tahun. Ketika Ibu saya mengira bahwa menikah membuat hidupnya lebih
mudah, karena bapak saya dari golongan yang strata sosialnya lebih tinggi dari ibu, nyatanya hidup tak seindah apa yang kita bayangkan.
Entah di usia pernikahan mereka yang ke berapa, bapak saya berhenti bekerja, dan mulai bergonta -ganti
pekerjaan. Ibu saya kemudian memutar otak, bagaimana untuk bisa menghasilkan uang untuk menyekolahkan anak-anaknya, dan membiayai hidup keluarganya. 
Bekerja kantoran jelas tidak mungkin, SD saja tidak lulus kok, akhirnya waktu itu dengan beberapa ribu yang dia punya (kalau tidak salah sekitar tahun 1978) Ibu saya memulai berjualan nasi rames, dengan meja kayu ala kadarnya.

Dimulai dari jualan nasi rames dengan meja kayu, kemudia setelah bertahun-tahun Ibu saya mampu membeli
lincak (bangku panjang dari Bambu) seperti yang digunakan pedagang-pedagang di pasar tradisional.
Setelah lincak, kemudia ibu mampu membeli lemari etalase bekas, yang setiap pagi kami harus mengangkat dari rumah ke ujung jalan tempat ibu berjualan. 
Dan ketika saya masuk SMP, ibu saya bias membeli gerobak, ini juga gerobak bekas yang kita bersihkan dan sedikit dipoles supaya terlihat sedikit cantik.

Nah, saat SMP ini, ketika saya sudah mulai kenal banyak orang, dan banyak teman-teman saya ini berasal dari keluarga mampu. 
Pernah suatu ketika saya merasa malu, malu punya Ibu yang cuma jualan rames, malu punya bapak yang nggak bekerja, apa yang bisa saya banggakan ?
Saya harus umpet-umpetan ketika pagi membantu mendorong gerobak Ibu, ketika sudah memakai seragam
sekolah masih harus membantu berjualan, waktu itu saya sunggu malu kalau teman-teman saya
mengetahu saya cuma anak tukang jualan rames. Pun kadang merasa sebal ketika sedang membantu jualan lalu ada ibu-ibu yang beli dan tidak mengantri,lalu dengan alasan cepetan dong anak saya mau sekolah,
dalam hati saya menjawab, saya juga mau sekolah tante, saya mau berangkat sekolah saja harus dorong
gerobak dulu, anak tante mah enak makan aja diladenin!
Pernah pada suatu ketika saya mengutarakan rasa malu saya ini ke Ibu, dengan tanpa perasaan saya bertanya ke Ibu 'Ibu, kenapa sih ibu harus jualan rames di pinggir jalan gini, dek Irin kan  malu kalau ketauan temen' Lalu Ibu saya sambil tersenyum menjawab 'kalau ada temen kamu yang nanya gitu, ya jawab aja, kalau Ibu saya jualan di tengah jalan nanti ditabrak dong' saya pun tertawa.
Setelah itu, Ibu saya bilang 'Rin, kalau Ibu nggak begini kamu nggak bisa sekolah, Ibu mau anak-anak Ibu sekolah yang tinggi biar kalian nggak perlu hidup susah kayak Ibu, nggak perlu merasakan apa yang Ibu rasakan, biar hidup kalian jauh lebih baik dari Ibu'
Apalah saya waktu itu, masih belum paham dengan hidup, remaja yang cuma tau gengsi.

Maafkan saya ya bu :(

Waktu berlalu, saya beranjak dewasa. Saya mulai paham apa yang Ibu lakukan demi anak-anaknya, saya
tidak lagi malu mendorong gerobak Nasinya sebelum berangkat sekolah, ikut membungkus nasi sebelum
berangkat sekolah atau ketika libur sekolah.
Saat saya SMA, ibu nekat meminjam uang untuk menyewa toko di ujung gang untuk berjualan. Karena memang masakan Ibu saya itu enaknya kebangetan, tidak heran kalau setiap hari warung Ibu selalu ramai, dari pagi jam 6 orang sudah antri untuk membeli lontong opor atau nasi gudeg atau ayam bakar, kemudian di siang hari sayur lodeh selalu jadi rebutan pelanggannya.
Hasil kerja kerasnya berbuah manis, Ibu saya bisa membeli rumah, rumah kosong di seberang rumah Eyang,
yes kami tinggal numpang di rumah Eyang selama berpuluh tahun. Ibu saya selalu berbisik ke saya 'nanti rumah ini pasti kebeli sama Ibu' setiap kali kami melewati rumah itu.
Dan benar saja, keinginannya yang kuat itu akhirnya terwujud. Ibu semakin menuai hasil kerja nya.

Ibu saya ini wanita yang tangguh, wanita yang keras terhadp dirinya sendiri namun lembut terhadap orang lain. Ibu saya terkenal baik ke semua orang, tanpa kecuali, baik ke pagawai-pegawainya, baik ke teman-teman saya, baik ke setiap pedagang di pasar, bahkan dia pun selalu baik ke setiap pengemis dan orang gila yang setiap hari meminta jatah nasi.
Pesan Ibu 'berbuat baik sebanyak-banyaknya, kapan saja dan dimana saja' bahkan saya tidak pernah diajarkan berbuat baik untuk mendapatkan pahala, memikirkan pahala saja artinya kita sudah pamrih, berbuat baik ya berbuat baik saja, begitu pesan Ibu.

Kebaikan Ibu ini menyisakan kenangan yang baik untuk orang-orang yang ditinggalkan, bahkan sampai sekarang kalau saya pulang kampung dan ke pasar traditional dan ketika belanja sesuatu tetapi uang saya kurang, pedagang di pasar tidak segan bilang 'putrine Bu Dibyo nggih? sampun mba di bekto mawon
riyin (sudah mba di bawa saja dulu)'. Sebegitu kuatnya ya kebaikan itu, bahkan masih bersisa setelah bertahun-tahun orang nya meninggalkan dunia.

Ah Ibu kenapa pergi secepat itu? Belum puas rasanya saya berterima kasih atas apa yang telah Ibu lakukan, yang telah Ibu perjuangkan untuk kami anak-anaknya. Kalau Ibu tidak keras terhadap diri Ibu sendiri, Kalau waktu itu Ibu terlalu cengeng mungkin saya tidak tau rasanya kuliah, tidak pernah tau bagaimana rasanya di wisuda, tidak bisa seperti saat ini.
Terima kasih atas perjuanganmu Bu, terima kasih telah melahirkan kami, terima kasih telah mengajarkan
kami nilai-nilai kehidupan. 
Semoga kami juga menjadi pribadi yang baik seperti Ibu, yang tetap dikenang kebaikannya hingga saat ini.

Beristirahatlah dengan tenang Bu, kami mengasihi Ibu, kami rindu Ibu :*
Dan beginilah cara saya mengungkapkan kerinduan saya, dengan menulis kebaikan-kebaikanmu Bu.




No comments:

Post a Comment

Monggo kalau mau komentar